JAYAPURA — Universitas Muhammadiyah Papua di Abepura, Kota Jayapura, menggelar Musyawarah ke-V mahasiswa pada 1 Oktober 2026. Forum ini menjadi ruang evaluasi organisasi sekaligus proses pemilihan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) untuk periode 2026–2027.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh MPM dan BEM bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) kampus. Musyawarah mengangkat tema yang berkaitan dengan pembentukan karakter kader organisasi. Melalui agenda ini, mahasiswa diarahkan untuk membahas keberlanjutan organisasi, menilai kepengurusan sebelumnya, serta mempersiapkan kepengurusan baru.
Pelaksanaan Musyawarah ke-V berlangsung di lingkungan Kampus Universitas Muhammadiyah Papua. Informasi mengenai kegiatan itu diberitakan pada 5 Oktober 2026, sedangkan agenda musyawarah berlangsung pada 1 Oktober 2026. Perbedaan tanggal tersebut penting dicatat agar waktu pelaksanaan dan waktu pemberitaan tidak tertukar.
Forum evaluasi dan penyusunan kepengurusan
Musyawarah mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai agenda pemilihan. Forum ini juga digunakan untuk mengevaluasi kinerja organisasi mahasiswa pada periode sebelumnya. Evaluasi tersebut menjadi dasar untuk menyusun arah kerja dan kepengurusan organisasi pada periode 2026–2027.
Pimpinan sidang, Nuten Wenda, menyebut musyawarah sebagai agenda penting bagi organisasi mahasiswa. Dalam forum tersebut, mahasiswa memiliki kesempatan untuk meninjau perjalanan kepengurusan sebelumnya dan membahas kebutuhan organisasi ke depan.
Dengan demikian, proses musyawarah mencakup dua kepentingan utama. Pertama, memastikan adanya evaluasi terhadap pelaksanaan organisasi. Kedua, menyiapkan proses regenerasi melalui pemilihan pengurus BEM dan MPM yang akan menjalankan amanah organisasi pada periode berikutnya.
BEM dan MPM menjadi bagian utama agenda
BEM dan MPM memiliki posisi penting dalam tata kelola organisasi mahasiswa di lingkungan kampus. Dalam Musyawarah ke-V ini, kedua lembaga tersebut menjadi bagian dari agenda pemilihan pengurus untuk periode 2026–2027.
BEM berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan dan representasi mahasiswa dalam berbagai agenda kemahasiswaan. Sementara itu, MPM menjadi bagian dari mekanisme permusyawaratan mahasiswa. Dalam konteks musyawarah, keberadaan kedua lembaga tersebut menunjukkan bahwa proses regenerasi organisasi dibahas melalui forum yang melibatkan struktur utama organisasi mahasiswa.
Keterlibatan KPU kampus juga menegaskan adanya unsur penyelenggaraan pemilihan dalam agenda tersebut. Namun, informasi yang tersedia belum memuat rincian teknis mengenai tahapan pemungutan suara, jumlah peserta, maupun mekanisme penetapan hasil akhir.
Menekankan demokrasi dan karakter kader
Tema pembentukan karakter kader organisasi menjadi salah satu penekanan dalam Musyawarah ke-V mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua. Tema tersebut menempatkan proses organisasi bukan semata-mata sebagai pergantian pengurus, melainkan juga sebagai bagian dari pembinaan mahasiswa yang terlibat dalam kepemimpinan dan kegiatan kemahasiswaan.
Penyelenggara menekankan nilai demokrasi, mufakat, kebersamaan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu menjadi dasar penting dalam proses pengambilan keputusan di organisasi mahasiswa. Demokrasi memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berpartisipasi, sedangkan musyawarah dan mufakat menjadi pendekatan dalam membahas kepentingan organisasi secara bersama.
Kebersamaan diperlukan agar proses regenerasi tidak berhenti pada penetapan pengurus, tetapi juga memperkuat hubungan antaranggota organisasi. Adapun tanggung jawab menjadi prinsip yang perlu melekat pada setiap pihak yang terlibat, baik dalam proses pemilihan maupun dalam pelaksanaan tugas setelah kepengurusan baru terbentuk.
Arah organisasi periode 2026–2027
Musyawarah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua 2026 menjadi momentum untuk menentukan arah organisasi mahasiswa pada periode 2026–2027. Arah tersebut disusun melalui proses evaluasi dan pembahasan dalam forum, dengan mempertimbangkan kebutuhan organisasi serta keberlanjutan kegiatan kemahasiswaan.
Proses ini diharapkan menghasilkan kepemimpinan organisasi mahasiswa yang amanah, kredibel, dan bertanggung jawab. Penekanan tersebut menunjukkan bahwa kualitas pengurus menjadi perhatian dalam penyelenggaraan musyawarah, bukan hanya keberhasilan melaksanakan pemilihan.
Pengurus organisasi mahasiswa juga diharapkan mampu memperkuat demokrasi dan kebersamaan di lingkungan kampus. Harapan itu berkaitan dengan peran organisasi mahasiswa sebagai ruang partisipasi, komunikasi, dan pembelajaran kepemimpinan bagi mahasiswa.
Hasil pemilihan belum tersedia secara terverifikasi
Hingga informasi yang tersedia, belum ada keterangan terverifikasi mengenai nama pengurus BEM dan MPM yang terpilih. Hasil pemungutan suara, susunan kabinet baru, serta rincian kepengurusan periode 2026–2027 juga belum dapat dipastikan.
Karena itu, informasi mengenai calon, perolehan suara, atau struktur kepengurusan baru tidak dapat disimpulkan dari pelaksanaan Musyawarah ke-V saja. Penetapan nama dan susunan pengurus memerlukan konfirmasi resmi dari pihak penyelenggara atau Universitas Muhammadiyah Papua.
Yang telah terkonfirmasi adalah pelaksanaan Musyawarah ke-V pada 1 Oktober 2026, lokasi kegiatan di Kampus Universitas Muhammadiyah Papua, Abepura, Kota Jayapura, serta agenda pemilihan pengurus BEM dan MPM untuk periode 2026–2027. Forum tersebut diselenggarakan oleh MPM dan BEM bersama KPU kampus dengan tema pembentukan karakter kader organisasi.
Musyawarah ini menjadi bagian dari proses demokrasi organisasi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Papua. Selain mengevaluasi kepengurusan sebelumnya, agenda tersebut membuka tahapan penyusunan kepengurusan baru dengan menekankan amanah, kredibilitas, tanggung jawab, mufakat, dan kebersamaan.

[…] Baca juga: UMP Gelar Musyawarah Mahasiswa untuk BEM dan MPM 2026–2027 […]
[…] Baca juga: UMP Gelar Musyawarah Mahasiswa untuk BEM dan MPM 2026–2027 […]
[…] Baca juga: UMP Gelar Musyawarah Mahasiswa untuk BEM dan MPM 2026–2027 […]